Aplikasi hipnoterapi untuk membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku sangatlah luas. Salah satu aplikasinya adalah untuk membantu anak. 

Sebagai hipnoterapis klinis kami sering dimintai tolong oleh para orangtua untuk membantu mengatasi masalah anak mereka. Apa saja masalah anak yang biasa kami tangani? Sangat beragam, antara lain anak tidak disiplin, tidak fokus kalau belajar, sulit konsentrasi, tidak percaya diri, enuresis (ngompol saat tidur), bruxism (gigi menggerinda saat tidur), minder, sulit bergaul, kurang motivasi, malas kerja PR, mogok sekolah,  gagap, fobia (macam-macam fobia: kecoa, gelap, anjing, tikus, cecak, matematika, dll), kecanduan main game, rewel sejak punya adik, prestasi sekolah kurang/tidak baik atau menurun, suka berbohong, sulit mengendalikan emosi, impulsif, mencuri, membantah, tidak mandiri, dan masih banyak lagi masalah lainnya. 

Sebagai orangtua dan juga pendidik saya sepenuhnya dapat memahami rasa frustrasi orangtua yang anaknya “bermasalah”. Setiap orangtua pasti mendambakan dan berharap punya anak yang pandai, baik, cerdas, rajin, disiplin, penurut, mandiri, disiplin, dan masih banyak sifat atau karakter positif lainnya. 

Orangtua yang datang ke kami, hipnoterapis klinis, biasanya sudah mencoba segala cara untuk mengubah atau membuat anaknya menjadi seperti yang mereka inginkan. Bila segala cara yang diketahui atau terpikirkan oleh orangtua sudah dicoba namun anak masih tidak berubah seperti yang diinginkan, masih tetap “bermasalah”, maka orangtua akan mencari bantuan pihak ketiga atau profesional. Di tahap inilah biasanya orangtua menghubungi dan minta bantuan kami. 

Dalam konteks hipnoterapi umumnya ada tiga kategori anak. Pertama, anak usia sangat muda, dengan rentang usia mulai lahir hingga sekitar lima atau enam tahun. Kedua, anak usia muda, usia lima hingga sebelas tahun. Dan ketiga, anak remaja, usia dua belas tahun ke atas. 

Untuk keefektifan terapi, saya hanya menggunakan satu kategori anak. Saya mendefiniskan “anak” sebagai individu, berapapun usianya, yang masih memiliki ketergantungan baik secara finansial dan terutama emosional pada orangtua atau pengasuh utamanya. 

Bagaimana kami melakukan hipnoterapi pada anak? 

Protokol terapi yang saya dan para hipnoterapis alumni Adi W. Gunawan Institute gunakan, dalam konteks hipnoterapi untuk anak, mensyaratkan di sesi pertama kedua orangtuanya, ayah dan ibu, harus bersedia bertemu terapis untuk menjalani sesi wawancara mendalam dan konseling. 

Syarat ini sangat penting untuk dipenuhi. Biasanya bila salah satu orangtua tidak bersedia atau berkenan hadir maka kami tidak akan bersedia melakukan hipnoterapi pada anak mereka. Syarat ini tentu tidak berlaku bagi orangtua tunggal (single parent). 

Alasan kami meminta kedua orangtua hadir adalah karena kami ingin mendapat penjelasan detil seputar masalah anak dari sudut pandang kedua orangtua, pola asuh yang diterapkan di rumah, siapa pengasuh utama anak, interaksi orangtua dengan anak, pola komunikasi, lingkungan utama tempat anak bertumbuh dan berkembang, dan sekaligus menanyakan kesediaan orangtua untuk bekerja sama dalam membantu anak berubah. 

Karakter anak adalah hasil bentukan, bukan sekedar bawaan lahir.  Ada yang  mengatakan bahwa anak ibarat kertas kosong (tabula rasa). Ini adalah padangan yang kurang tepat. Yang benar adalah anak seperti sebuah media tempat pelukis (baca: orangtua) menorehkan cat lukis. Untuk dapat menghasilkan lukisan yang indah, pelukis harus mengenal media yang ia gunakan, apakah terbuat dari kertas, kanvas, kain, kaca, logam, keramik, tembok, atau media lainnya, dan tentunya juga menggunakan bahan dan teknik lukis yang sesuai. Sayangnya orangtua biasanya hanya mengenal satu teknik lukis yaitu teknik yang ia pelajari dari orangtuanya yang mendidiknya saat kecil. Teknik ini juga yang ia gunakan, lebih tepatnya dipaksakan, untuk menghasilkan lukisan dalam diri anaknya, yang mana seringkali tidaklah sesuai. 

Pengalaman klinis dan empiris menunjukkan bahwa masalah anak sebenarnya adalah cerminan dari kualitas sistem keluarganya. Bila anak “bermasalah” maka bisa dipastikan ini hanyalah akibat dari sistem keluarga yang bermasalah. Dan yang menjadi orang kunci dalam sistem keluarga adalah orangtua, ayah dan ibu. 

Setelah mendengar uraian dan jawaban dari kedua orangtua, barulah kami memutuskan apakah si anak perlu kami terapi ataukah justru orangtuanya yang perlu menjalani sesi konseling lanjutan atau bahkan perlu diterapi. 

Seringkali yang bermasalah bukanlah si anak namun justru salah satu atau kedua orangtuanya. Misalnya, orangtua tidak harmonis, sering tidak ada waktu untuk anak, berkata kasar, tidak sehati dalam mendidik anak. 

Orangtua yang tidak mengerti fase dan proses tumbuh kembang anak biasanya akan memaksakan standar yang mereka pikir benar kepada anak. Ada lagi yang suka membanding-bandingkan anak dengan saudaranya atau orang lain. 

Saya sering menjumpai orangtua, khususnya si Ibu, yang mengeluh bahwa anaknya bermasalah, tidak bisa konsentrasi, dan maunya main terus. Saat saya tanya apa maksudnya anak tidak bisa konsentrasi si ibu menerangkan bahwa rentang fokus anaknya sangat pendek. Kalaupun bisa fokus memelajari sesuatu ini hanya singkat, hanya beberapa menit, tidak bisa lama. 

“Maunya Ibu anak bisa konsentrasi dan fokus berapa lama?” tanya saya. 

“Ya kalau bisa minimal satu jam,” jawabnya. 

“Berapa usia anak Ibu,” tanya saya penasaran. 

“Tiga tahun Pak,” jawab si Ibu.

Astaghfirullah…. Saya sungguh kaget mendengar jawaban ini. Dari jawaban si Ibu saya memahami sepenuhnya bahwa si anak tidaklah bermasalah. Anak ini dianggap bermasalah oleh ibunya karena pemahaman yang tidak tepat yang dipegang oleh si Ibu. Bila si Ibu bersikukuh pada pandangannya bahwa anaknya bermasalah maka cepat atau lambat anaknya pasti jadi bermasalah seperti yang ia harapkan. 

Anak usia tiga tahun tidak mungkin, saya ulangi, tidak mungkin bisa tahan konsentrasi atau fokus belajar sampai satu jam. Cara belajar anak adalah dengan bermain. Bila ia suka maka ia bisa belajar dan fokus dalam waktu yang lebih lama. Namun tetap tidak mungkin bisa sampai satu jam. 

Sebagai terapis saya tidak menyalahkan orangtua. Mereka umumnya merasa telah melakukan yang terbaik dalam mendidik anak. Namun sayangnya apa yang mereka pikir baik ternyata kurang tepat atau salah. Di sinilah pentingnya peran terapis dalam memberikan konseling dan edukasi kepada orangtua mengenai cara mendidik anak dengan benar, cara mengisi tangki cinta anak, pengharapan positif, dan menggunakan kata-kata positif dalam komunikasi dengan anak. Dan yang juga sangat penting adalah kesatuan hati, sikap, dan komitmen kedua orangtua memberikan yang terbaik bagi anak mereka. 

Orangtua adalah hipnotis dan hipnoterapis terbaik bagi anaknya. Mereka yang membentuk anak-anak mereka dan mereka pula yang dapat dengan cepat mengubah anak mereka dengan pertama-tama mengubah sikap dan perilaku mereka sendiri. 

Setelah orangtua menjalani konseling atau terapi kami memberi tugas pada mereka, hal-hal yang tidak lagi boleh dilakukan dan apa yang sebaiknya mereka lakukan di rumah dalam upaya membantu anak berubah. Peran orangtua, dalam hal ini, sangat penting, yaitu sebagai hipnoterapis yang “menerapi” anak di rumah melalui perubahan dan modifikasi lingkungan dan interaksi. 

Bila anak membutuhkan penanganan maka, bisa di sesi yang sama atau di sesi selanjutnya, kami akan melakukan terapi. Teknik terapi yang digunakan sangat bergantung pada usia anak. 

Untuk anak usia di bawah lima tahun yang kami lakukan adalah memberikan edukasi kepada orangtua, mengajari orangtua cara melakukan teknik terapi sederhana namun efektif, dan membuatkan skrip sugesti yang akan dibacakan orangtua kepada anak. 

Bila anak berusia sekitar lima atau enam tahun hingga dua belas tahun maka kami akan membantu anak mengatasi emosi yang berhubungan dengan masalahnya, dan setelah itu memberikan sugesti yang sesuai. 

Selanjutnya bila usia anak dua belas tahun atau lebih maka kami menggunakan teknik terapi untuk orang dewasa. 

Saya pernah menangani “anak” usia 35 tahun dan 43 tahun yang masih tinggal serumah dengan kedua orangtuanya dan masih bergantung secara finansial dan emosional pada kedua orangtuanya. Di sesi awal saya mensyarakat kedua orangtuanya hadir. 

Di masyarakat ada pandangan yang kurang tepat mengenai hipnoterapi. Banyak yang berpandangan bahwa hipnoterapi adalah hanya dengan memberi sugesti sehingga berpikir bila anak sudah ke hipnoterapis dan diberi sugesti maka semua masalah pasti teratasi. Benarkah demikian? Tentu tidak sesederhana dan semudah ini. 

Ada banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan sebagai langkah konkrit membantu anak mengatasi masalah mereka. Secara umum, hipnoterapi untuk anak terdiri atas lima tahap yaitu mencari tahu masalah anak, menganalisis kemungkinan akar masalah, menetapkan strategi terapi, melakukan terapi, dan memantau hasil terapi. 

Berikut saya beri satu contoh kasus yang pernah saya tangani. Budi berusia hampir tujuh tahun dan duduk di kelas 1 SD. Ibunya mengeluh bahwa Budi sulit belajar dan hanya mau mengerjakan soal matematika. Kalau membaca dan menulis, Budi sangat lambat dan sering tidak menjawab pertanyaan. Akibatnya nilai Budi jeblok dan terancam tidak naik kelas. 

Dari hasil wawancara didapatkan data menarik. Budi setiap hari mendapat les pelajaran dari guru sekolahnya. Dan bila ditanya atau diuji secara lisan Budi pasti mampu menjawab dengan benar. Namun bila harus menuliskan jawabannya, Budi pasti mogok atau tidak mau. Nilai matematika Budi cukup tinggi. 

Sekilas yang tampak di permukaan masalah Budi adalah ia tidak mau mengerjakan jawaban dengan menulis. Bila terapis tidak cermat dan hanya memberi sugesti, masalahnya tidak akan pernah selesai. 

Saat saya tanya mengapa ia tidak mau menulis jawaban, Budi menjawab singkat, “Malas.” 

Selanjutnya saya melakuan hal berikut untuk memastikan sumber masalah Budi. Saya melakukan analisis dan identifikasi sumber kesulitan belajar yang Budi alami, meliputi aspek: apakah ada hambatan pada aspek pengetahuan dasar, apakah pada aspek penguasaan materi, apakah pada aspek manajemen waktu, ataukah pada aspek emosi. 

Ternyata Budi, walau sudah mau naik ke kelas 2 SD, masih tidak bisa membaca dan menulis dengan lancar. Saat saya beri bacaan Budi membaca dengan mengeja dan tampak cukup kerepotan. Di sinilah sebenarnya akar masalahnya. 

Berhubung Budi tidak lancar membaca dan menulis maka sudah tentu ia mengalami kesulitan membaca dan memahami soal ujian, dan menjawabnya. 

Yang saya sarankan pada orangtuanya adalah biarkan Budi tinggal kelas. Waktu yang tersisa selama tiga bulan tidak mungkin untuk bisa memaksa Budi meningkatkan kemampuan baca dan tulisnya. 

Mendengar hal ini tentu si Ibu kaget dan sangat keberatan. Si Ibu merasa malu kalau anaknya sampai tinggal kelas. Saya sampaikan bahwa ini adalah pendapat profesional saya dan saya tidak akan berargumentasi mengenai hal ini. Keputusan sepenuhnya saya serahkan pada si Ibu. Saya juga menjelaskan berbagai kemungkinan akibat negatif bila Budi dipaksa naik ke kelas dua. Dengan kemampuan baca dan tulis yang masih minim Budi pasti akan mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di kelas dua. Dan ini akan semakin membuat Budi patah semangat serta merusak harga dirinya. 

Benar, tinggal kelas juga bukan satu pilihan yang mudah. Namun, adalah lebih baik Budi tinggal kelas daripada dipaksakan naik kelas. Yang penting, orangtua tidak mempermasalahkan hal ini dan tetap sepenuhnya mendukung Budi untuk berkembang. 

Singkat cerita, si Ibu akhirnya mendengar saran dan masukan saya. Budi tinggal kelas namun tetap mendapat dukungan penuh dan perhatian dari orangtuanya. Selama setahun mengulang Budi mengejar semua kekurangannya di bidang membaca dan menulis. Hasilnya? Sangat positif. 

sumber: Adi W Gunawan Institute of Mind Technology

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *