Undang-undang No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, menyatakan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Jadi tujuan umum dari perlindungan anak adalah untuk menjamin pemenuhan hak-hak kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi anak.

Untuk itu sebuah pokja P2A mempunyai ruang lingkup tindakan kepada anak untuk melindungi dan mendampingi anak, yang meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Pendampingan terhadap anak yang dianggap berperilaku baik maka pendampingan diberikan untuk memunculkan dan mengembangkan potensi dalam diri anak baik berupa minat, bakat dan talenta. Semuanya ini dengan harapan agar anak merasa diri berharga oleh karena mempunyai suatu kemampuan dan ketrampilan hasil dari pengembangan potensi dalam diri anak.

2. Pendampingan terhadap anak yang dianggap berperilaku bermasalah maka pendampingan diberikan untuk membantu anak mengidentifikasi masalah dalam diri dan membantu anak membereskan masalah tersebut melalui tindakan konseling ataupun terapi hingga permasalahan anak terselesaikan dan tidak memunculkan perilaku anak yang bermasalah.
Kategori permasalahan anak yang biasa ditemukan dalam bentuk perilaku bermasalah adalah seperti halnya pola kebiasaan buruk, perasaan takut (phobia), perilaku yang mengganggu orang lain, prestasi belajar dan citra diri (rasa percaya diri).

3. Perlindungan terhadap anak meliputi rasa aman dalam diri anak baik secara tubuh fisik maupun mental (psikis). Fokus utama dari P2A adalah perlindungan anak secara mental, dan untuk ini perlu pengetahuan dan kesadaran diri dari para orangtua agar setiap anak bener-benar merasa aman dan nyaman; terpenuhi akan kebutuhan emosional anak berupa rasa aman, perasaan dicintai, dihargai, diakui, penerimaan diri dan mempunyai kendali diri secara penuh.
Apabila pemenuhan akan kebutuhan emosional anak dari orangtua tidak terpenuhi maka akan akan merespon dalam bentuk perilaku yang dipandang oleh orangtua sebagai suatu masalah. Jika hal ini terjadi maka akan masuk ranah dari pendampingan terhadap anak yang dianggap bermasalah.

Demikian sekilas ruang lingkup dari pokja P2A, semoga bisa memberikan inspirasi bagi para relawan dan pemerhati anak.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *