Tujuan utama dari hipnoterapi klinis adalah untuk membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan emosi dan perilaku. Keberhasilan dan keefektifan terapi ditentukan oleh banyak faktor antara lain kepercayaan klien terhadap terapis, keterbukaan, kesiapan, dan kesediaan klien bekerjasama dengan terapis, dan kecakapan terapis.
Keefektifan hipnoterapi klinis sebagai salah satu modalitas terapi yang sangat efektif ditentukan oleh beberapa hal. Selain ragam teknik intervensi yang digunakan, kepercayaan diri dan pengalaman terapis, juga sangat dipengaruhi oleh kedalaman hipnosis yang dicapai klien saat terapi dilakukan.
Terdapat perbedaan signifikan dalam capaian terapi yang dilakukan di kondisi hipnosis dangkal (light trance) dan hipnosis dalam (deep trance).

Menurut Dave Elman, salah satu tokoh hipnosis/hipnoterapi mashyur, ada lima kategori kedalaman hipnosis: light/superficial, medium, somnambulistic, Esdaile state, dan hypnosleep. Elman mengatakan bahwa untuk dapat melakukan hipnoterapi yang efektif membutuhkan kedalaman somnambulisme. Kedalaman light/superficial dan medium trance tidak bermanfaat. Berbeda dengan yang diketahui awam, Milton Erickson juga menekankan pentingnya deep trance. Bahkan dalam beberapa kasus Erickson secara khusus melatih kliennya untuk bisa masuk deep trance, selama beberapa sesi, baru kemudian melakukan terapi.

Secara teknis, ada beberapa alasan penting yang mendasari mengapa terapi sebaiknya dilakukan dalam kondisi hipnosis yang dalam.

Pertama, dalam kondisi sadar normal akses ke pikiran bawah sadar tidak bisa dilakukan dengan leluasa. Setiap data yang akan masuk ke pikiran bawah sadar pasti melewati faktor kritis (critical factor). Faktor kritis adalah filter mental di pikiran sadar yang fungsinya menjaga dan melindungi setiap data yang ada di pikiran bawah sadar sehingga tidak mudah untuk diubah atau diganti. Dalam kondisi light trance, faktor kritis masih sangat kuat bekerja. Dengan demikian segala upaya yang dilakukan baik oleh klien maupun terapis, untuk mengakses pikiran bawah sadar dan melakukan modifikasi atau restrukturisasi data akan mengalami hambatan dan resistensi yang kuat. Dalam kondisi medium trance faktor kritis sudah tidak sekuat dalam kondisi sadar normal atau light trance namun masih bisa menghambat proses terapi.
Kondisi trance tidak statis namun fluktuatif dan dinamis. Klien sewaktu-waktu, dan tanpa terapis ketahui, bisa naik dari kondisi medium ke light trance. Bila naik ke light trance faktor kritis kembali menguat.

Kedua, kondisi deep trance memungkinkan terapis memberdayakan pikiran bawah sadar klien menggunakan berbagai teknik terapi yang difasilitasi oleh trance logic. Cara kerja, fungsi, karakteristik, dan manfaat trance logic berbeda dengan conscious logic yang merupakan wilayah pikiran sadar.

Ketiga, dari sisi perbandingan jumlah konten pikiran bawah sadar yang bisa naik ke permukaan. Semakin dangkal kondisi hipnosis, semakin sedikit konten pikiran bawah sadar yang bisa leluasa naik ke permukaan. Sebaliknya, semakin dalam kondisi hipnosis semakin banyak dan mudah konten pikiran bawah sadar naik ke permukaan sehingga bisa diketahui dan diproses sesuai tujuan terapi. Hipnoanalisis hanya efektif bila banyak konten pikiran bawah sadar yang dapat diakses.

Keempat, ada banyak teknik terapi yang hanya bisa bekerja dengan efektif dan memberi hasil optimal bila dilakukan dalam kondisi deep trance. Teknik-teknik ini antara lain regresi dengan affect bridge, teknik abreaksi, revivifikasi, anestesi mental, progresi, restrukturisasi konten pikiran bawah sadar, positive reimprinting, gestalt, imajinasi, sugesti, rescripting, dan berbagai teknik lainnya.
Revivifikasi hanya bisa terjadi di kondisi hipnosis yang dalam, tidak bisa di kondisi light atau medium trance. Light atau medium trance hanya bisa menghasilkan hipermnesia yang tdak dapat digunakan untuk mengakses emosi yang akan diproses. Demikian pula dengan abreaksi dan manajemen abreaksi hanya bisa efektif dalam kondisi deep trance.
Proses abreaksi hanya akan maksimal bila klien mengalami revivifikasi, bukan hipermnesia. Saat revivifikasi klien mengalami kembali pengalaman yang menjadi akar masalah lengkap dengan emosi yang dulu ia rasakan. Emosi ini yang diproses tuntas dengan teknik abreaksi dan dilanjutkan dengan restrukturisasi pengalaman sehingga terjadi resolusi trauma dan klien mendapat pemahaman baru. Syarat untuk revivifikasi adalah deep trance, tidak bisa medium trance.

Kelima, akses Ego Personality (EP) atau Bagian Diri yang berada atau bersembunyi di kedalaman lapisan pikiran. Banyak hipnoterapis mempraktikkan teknik Gestalt dalam kondisi light trance dan berhasil membantu klien mengatasi masalah dengan baik. Teknik yang sama tidak efektif digunakan bila Ego Personality yang membuat masalah “tinggal” atau “sembunyi” di kedalaman. Untuk itu terapis perlu membawa klien turun hingga deep trance agar dapat mengakses EP yang membuat masalah. Kondisi light trance hanya memungkinkan terapis atau klien mengakses EP yang berada di permukaan atau surface EP.

Keenam, dalam kondisi sadar normal unit-unit daya pikiran tersebar atau tercerai-berai. Namun saat dalam kondisi deep trance unit-unit ini menyatu sehingga sugesti atau terapi yang dilakukan mampu memberi dampak lebih maksimal dibanding dengan kondisi biasa.

Ketujuh, bila ditilik dari perspektif teori belajar, kondisi hipnosis sesungguhnya adalah kondisi pikiran yang sangat kondusif untuk belajar. Deep trance adalah kondisi pikiran yang sangat rileks di mana pikiran sadar (sangat) fokus pada materi yang dipelajari. Fokus inilah yang memegang peran penting dalam proses belajar. Kesulitan belajar umumnya terjadi karena pikiran sadar sering tidak fokus, memikirkan hal-hal lain, sehingga mengganggu proses belajar. Pentingnya kondisi deep trance untuk optimalisasi proses dan hasil belajar dan juga terapi dengan sangat gamblang dijelaskan dan ditekankan oleh Bandler dalam bukunya “Richard Bandler’s Guide to Trance-formation: How to Harness the Power of Hypnosis to Ignite Effortless and Lasting Change”. Bandler mengatakan bahwa hipnosis adalah satu alat yang bermanfaat untuk menginstal strategi tertentu di pikiran bawah sadar.
Bila memang kondisi deep trance begitu penting untuk melakukan hipnoterapi yang efektif, lalu bagaimana cara untuk mencapainya?
Ada banyak teknik induksi yang bisa digunakan untuk membawa klien masuk ke kondisi deep trance. Apapun teknik induksi yang digunakan haruslah dilengkapi dengan uji kedalaman yang presisi untuk memastikan kedalaman yang dicapai klien. Ada uji kedalaman untuk mengetahui kondisi light, medium, dan deep trance.
Uji kedalaman yang baik adalah yang menyatu dan menjadi bagian dari induksi yang dilakukan terapis saat membimbing klien masuk kondisi hipnosis dan tidak diketahui oleh klien.

Sumber : Adi W Gunawan Institute of Mind Technology

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *