Saya ingin berbagi sedikit kutipan dari artikel tentang emosi yang di rilis oleh Adi W Gunawan Institute of Mind Technology, demikian kutipannya…

Dulu, di awal saya mendalami dunia pikiran dan meditasi, saya mendapat wejangan dari guru saya, YM Sri Paññavaro Mahathera, “Batin manusia terdiri atas pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran. Dari keempat komponen ini yang menjadi provokator adalah perasaan.”

Kita sering mendengar pernyataan bahwa manusia adalah makhluk rasional, logis. Benarkah demikian? Bisa ya, dan lebih sering tidak. Manusia sangat sulit untuk bisa benar-benar berpikir rasional dan logis.

Bila ditelaah dengan kaca mata kejujuran dan kesadaran, kita pasti sampai pada satu simpulan yaitu emosi memengaruhi setiap proses berpikir, berucap, bertindak, perilaku, dan pembuatan keputusan. Hanya orang-orang yang telah mengembangkan batin hingga ke taraf tertentu yang mampu memerdekan diri dari pengaruh dan sekaligus menjadi tuan dari emosinya. Dengan memahami begitu besar peran dan pengaruh emosi pada kualitas hidup, kita perlu tahu dari mana emosi berasal.

Sejatinya, ada tiga jenis emosi: positif, netral, dan negatif. Tiga emosi inilah yang memberi warna pada setiap pengalaman hidup. Emosi adalah warna warni pada lukisan kehidupan kita. Indah atau tidaknya lukisan ini, sepenuhnya berpulang pada masing-masing kita.

Emosi dari Pemaknaan

Emosi, umumnya, muncul karena pemaknaan. Setiap kejadian sifatnya netral, sampai kita memberi makna pada kejadian ini. Ada tiga kemungkinan makna yang diberikan pada setiap kejadian: positif, netral, negatif. Makna selanjutnya memunculkan emosi yang sejalan dengannya. Makna positif memunculkan emosi positif. Makna netral memunculkan emosi netral. Dan makna negatif memunculkan emosi negatif.

Makna yang diberikan pada suatu kejadian bisa menggunakan salah satu dari dua jalur: sadar dan tidak sadar. Yang dimaksud pemaknaan secara sadar adalah saat kita mengalami suatu kejadian, kita dengan tenang mengamati, menyadari apa yang terjadi, dan setelahnya dengan menggunakan kebijaksanaan memberi makna yang tepat. Ini adalah kondisi ideal yang menjadi idaman setiap orang. Namun, sejujurnya, tidak mudah untuk bisa melakukan hal ini. Yang paling sering terjadi adalah pemaknaan secara tidak sadar. Saya menyebutnya sebagai pemaknaan stimulus-respons atau otomatis.

Pemaknaan otomatis terjadi karena kita menggunakan data yang ada di memori pikiran bawah sadar sebagai acuan. Data di memori ini adalah hasil pembelajaran, akumulasi pengalaman, dan terutama injeksi makna dari figur otoritas, terutama orangtua atau pengasuh utama.

Dengan demikian, emosi yang kita alami atau rasakan, mayoritas adalah hasil pemaknaan yang mengacu pada pengalaman masa lalu. Kita tidak menyadari akan hal ini karena kerja pikiran bawah sadar 200.000 kali lebih cepat daripada pikiran sadar. Yang terjadi, saat kita mengalami sesuatu, seolah tanpa ada jeda, langsung muncul emosi.

Diserap dari Orang Lain

Emosi juga bisa berasal dari luar diri kita. Sering, tanpa disadari, kita menyerap emosi yang berasal dari orang lain, saat kita berinteraksi dengan mereka, baik secara langsung atau melalui telpon. Saya yakin Anda pasti pernah jumpa seseorang dan setelahnya Anda merasa begitu positif, energi Anda melimpah ruah. Dan pernah juga, di lain waktu, Anda jumpa seseorang dan setelahnya Anda merasa sangat lelah, tidak nyaman, dan bahkan bisa sakit. Yang terjadi sebenarnya adalah Anda menyerap emosi yang dipancarkan oleh orang ini, dalam bentuk energi.

Curhat adalah sarana pertukaran energi yang dahsyat. Saat seseorang curhat pada Anda, terutama hal-hal negatif, sebaiknya Anda hindari. Mengapa? Karena saat ia curhat, sebenarnya ia sedang memprojeksikan energi negatif dari dalam dirinya ke Anda. Bila tidak kuat, tubuh Anda akan menyerap dan menyimpan emosi negatif ini. Akibatnya, emosinya berpindah ke tempat Anda dan sekarang Anda yang bermasalah. Kondisi ini yang sering terjadi dan dialami oleh para terapis, psikolog, dokter, psikiater, konselor, dan mereka yang bergerak di bidang penyembuhan.

Setelah Emosi Muncul

Saat suatu emosi muncul, ia akan mengendalikan seseorang dengan tingkat kekuatan sejalan dengan intensitasnya. Bila, misalnya, digunakan skala 0 hingga 10, di mana 0 artinya tidak ada intensitas sama sekali dan 10 adalah intensitas paling kuat, maka semakin tinggi intensitasnya semakin kuat daya pengaruh dan kendali emosi terhadap individu.

Saat emosi muncul atau tercipta, ia akan diproses oleh sistem psikis kita. Bila emosi berhasil diproses tuntas, ia akan “hilang” dan tidak mengganggu. Namun bila karena sesuatu hal, khususnya emosi negatif, ia tidak berhasil diproses tuntas, akan muncul residu yang menetap atau tersimpan di lokasi tubuh tertentu. Residu ini selanjutnya akan memengaruhi kerja sel atau organ tempat ia menetap. Bisa terjadi, di satu lokasi (organ, otot, sel) menetap lebih dari satu emosi yang sama atau berbeda. Kondisi ini disebut nesting atau sarang.

Lokasi emosi biasanya tidak hanya terpusat di satu lokasi. Dari temuan di ruang praktik, diketathui biasanya ada dua lokasi tempat emosi menetap: lokasi primer dan lokasi sekunder. Lokasi primer adalah wilayah tubuh yang paling jelas terasa saat emosi ini aktif. Sementara lokasi sekunder adalah lokasi-lokasi lain tempat menetap emosi yang sama, tapi hanya bisa dirasakan keberadaannya bila seseorang secara sadar melakukan pengecekan. Di manapun emosi menetap, ia selalu berpengaruh, baik positif maupun negatif.

Untuk memahami peran dan pengaruh emosi pada manusia, saya sangat menyarankan Anda untuk menyaksikan film animasi, Inside Out. Film ini menceritakan bagaimana emosi-emosi dalam diri, Bahagia (Joy), Sedih (Sad), Takut (Fear), Jijik (Disgust), dan Marah (Anger) saling berinteraksi dan mengendalikan diri seseorang dalam menjalani hidup.

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *