Pemahaman awam mengenai aplikasi hipnosis untuk terapi selama ini lebih pada relaksasi yang dilanjutkan dengan pemberian sugesti. Banyak yang belum mengerti atau tidak tahu bahwa dalam kondisi hipnosis terdapat fenomena-fenomena hipnotik yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses perubahan yang bersifat terapeutik.

Langkah awal untuk mampu menerapkan pengetahuan dan pemahaman akan berbagai fenomena hipnotik dalam konteks klinis diawali dengan mengenal dan mengerti fenomena itu sendiri. Artikel ini bertujuan menjelaskan fenomena hipnotik yang dapat muncul dalam kondisi trance, baik secara spontan atau melalui proses yang difasilitasi oleh terapis, dan tidak untuk menjelaskan aplikasi setiap fenomena dalam konteks terapi. Penjelasan detil dan teknik utilisasi fenomena hipnotik untuk tujuan terapi hanya dapat dilakukan melalui pelatihan intens mengingat kompleksitas teoritis dan membutuhkan penjelasan mendalam dan untuk menghindari kontraindikasi.

Dalam kondisi hipnosis subjek dapat menghapus, memodifikasi, dan mencipta pengalaman yang tidak mungkin terjadi atau dialami dalam kondisi kesadaran normal. Subjek menjadi lentur dalam kemampuan persepsi waktu subjektif; waktu hipnotik dapat dipersepsikan (sangat) lama atau (sangat) singkat. Subjek dapat mengubah citra tubuhnya, memengaruhi aliran darah, mengurangi rasa sakit, secara disosiasi melihat diri mereka berada dalam realita lain, secara meyakinkan mundur ke masa kecil, merespon sugesti dengan sangat akurat, dan berkomunikasi secara simbolik melalui menggambar secara otomatis sambil tetap lancar berbicara dengan orang lain. Singkat kata, melalui hipnosis, subjek dapat mengubah relasi dan persepsi mereka terhadap waktu, mengubah pengalaman sensori, merespon secara otomatis, dan memodifikasi memori.

Fenomena hipnotik dapat digambarkan sebagai manifestasi alamiah perilaku dan pengalaman kondisi trance. Fenomena ini meliputi baik kejadian psikologis yang dialami secara subjektif, seperti mengingat, melupakan, distorsi waktu, dan perubahan persepsi, dan juga kejadian yang teramati, seperti lengan yang terangkat (arm levitation) atau menulis otomatis (automatic writing).

Fenomena hipnotik terjadi dan ada di semua kebudayaan di seluruh dunia dan di semua periode sejarah (Wickramasekera,1988). Fenomena ini kerap muncul dalam konteks keagamaan atau penyembuhan/medis.

Menurut Erickson (1980) terdapat beberapa karakteristik mental dan fisik yang ada pada semua kondisi hipnosis yaitu sugestibilitas, literal, katalepsi, amnesia, perubahan sensori, dan sugestibilitas pascahipnosis. Pada aspek fisik, karakteristik yang umum dijumpai yaitu napas dan denyut nadi melambat, perubahan yang berhubungan dengan mata, dan berkurangnya gerakan tubuh (Zeigh, 1984).

Fenomena hipnotik yang muncul dalam kondisi trance berbeda antara satu subjek dengan lainnya, bergantung pada tipe kepribadian, kedalaman tranceyang dicapai subjek, pengharapan, niat, sugesti yang diberikan, kondisi mental dan emosi pada satu saat, dan kebutuhan. Bahkan individu yang sama, di hari yang berbeda, dapat mengalami fenomena hipnotik yang berbeda pula.

Ada banyak skala kedalaman trance yang disusun oleh praktisi hipnoterapi yang menjelaskan hubungan antara kedalaman trance dan fenomena hipnotik, antara lain Stanford Hypnotic Susceptibility Scales, Harry Arons Hypnotic Depth Scale, Davis-Husband Scale, Lecron-Bordeaux Scale, Heron Depth Scale, Hartman Depth Scale. Namun sangat disayangkan tidak satupun skala ini menjelaskan secara eksplisit bagaimana memanfaatkan fenomena hipnotik untuk tujuan terapuetik.

Ragam Fenomena Hipnotik

Berikut ini adalah fenomena hipnotik beserta penjelasan singkat untuk masing-masing fenomena sesuai kategori.

Fungsi Memori

Amnesia adalah hilangnya kemampuan untuk mengingat atau mengenali pengalaman masa lalu. Amnesia dapat dimunculkan dalam kondisi hipnosis baik untuk menyembunyikan/menghambat akses memori (dari pengalaman, perasaan, atau bentuk pikiran) yang terjadi sebelum atau selama trance

Hipermnesia adalah meningkatkan kemampuan mengingat secara luar biasa. Fenomena hipnotik ini memungkinkan subjek mengingat dengan sangat nyata memori kejadian masa lalu lengkap dengan semua detil sensori. 

Sugesti pascahipnosis merujuk pada pelaksanaan atau eksekusi dari suatu sugesti yang diberikan saat subjek dalam kondisi hipnosis dan sugesti ini dilaksanakan setelah subjek keluar dari kondisi hipnosis. 

Bermain dengan Waktu

Perubahan persepsi terhadap waktu adalah salah satu fenomena trance yang umum dialami subjek dalam kondisi hipnosis, bahkan pada kondisi hipnosis dangkal (Erickson, 1980). Subjek dalam trance selama 60 menit dan merasa hanya 10 menit disebut mengalami kontraksi waktu (time contraction). Sedangkan subjek yang berada dalam kondisi trance 10 menit namun merasa 60 menit disebut mengalami ekspansi waktu (time expansion). Umumnya, semakin dalam kondisi trance, semakin intens kontraksi waktu yang dialami subjek. 

Fenomena ekspansi waktu pertama kali ditemukan oleh Cooper (1948) melalui eksperimen di mana subjek penelitian merasakan waktu subjektif selama 10 menit padahal waktu sebenarnya hanya 3 detik.

Regresi (age regression) adalah fenomena hipnotik yang sebagain berdasar pada mekanisme amnesia dan hipermnesia. Regresi artinya subjek mundur ke masa lalu. Dalam konteks hipnoterapi klinis, dikenal dua jenis regresi yaitu regresi terdisosiasi (hipermnesia) dan regresi terasosiasi (revivifikasi). Revivifikasi berbeda dengan hipermnesia. Hipermnesia adalah meningkatnya kemampuan mengingat, sedangkan revivifikasi memungkinkan subjek mengalami kembali memori dari kejadian masa lalu sama seperti dulu ia mengalaminya.

Selanjutnya, hipermnesia dan revivifikasi masing-masing terbagi menjadi dua tipe yaitu hipermnesia tipe 1 dan 2, dan revivifikasi tipe 1 dan 2, masing-masing dengan karakteristik mental dan kegunaan yang berbeda secara klinis. Revivifikasi tipe 1 ada dua tipe yaitu yang sifatnya complete dan partial (Gunawan, 2011). Revivifikasi tipe 2 juga disebut sebagai pseudo age regression (Weitzenhoffer, 1989b).

Progresi adalah fenomena hipnotik di mana subjek dibawa maju ke masa depan. Pengalaman di masa depan bisa berupa mengalami sukses seperti yang diinginkan, berbicara pada diri di masa depan, atau menjadi diri di masa depan, dengan tetap mampu mengakses pikiran dan perasaan diri dari masa sebelumnya. Beberapa istilah yang digunakan untuk progresi yaitu age progressionfuture orientation, dan psedu-orientation in time.

Dualitas Realita

Disosiasi adalah salah satu fenomena hipnotik yang cukup dikenal dan sering dialami. O’Hanlon (1987) menggambarkan disosiasi sebagai pemisahan kondisi sadar dan nirsadar atau sebagai pemisahan emosi dari pikiran, perilaku, dan perasaan. Hilgard (1977) mendefinisikan disosiasi sebagai proses mental di mana sistem ide terpisah dari kepribadian normal dan beroperasi secara independen.

Mimpi hipnotik meliputi kapasitas subjek untuk mengalami, baik saat di sesi terapi atau saat tidur di rumah, mimpi terapeutik yang dimunculkan dengan sugesti.

Gerakan Terdisosiasi

Katalepsi adalah kondisi istimewa di mana tonus dan keseimbangan otot memungkinkan subjek mempertahankan postur dan posisi tubuh untuk waktu yang lama tanpa merasa lelah. Katalepsi diikuti dengan melambatnya semua aktivitas psikomotor dan merupakan dasar dari fenomena lain seperti lengan terangkat (arm levitation).

Menulis otomatis (automatic writing) adalah fenomena hipnotik yang merupakan hasil dari disosiasi antara fungsi mental sadar dan nirsadar. Subjek diberi sugesti langsung atau tidak langsung dan merespon dalam bentuk menulis di luar kendali pikiran sadar. Melukis atau menggambar otomatis adalah seni yang berhubungan dengan menulis otomatis.

Modifikasi Persepsi

Analgesia adalah pudarnya kesadaran seseorang terhadap rasa sakit. Dalam hal ini rasa sakit semakin berkurang atau hanya tersisa sedikit tapi tetap bisa dirasakan. Sedangkan anestesi adalah hilangnya secara total rasa sakit. Subjek tidak merasakan apapun.

Hiperestesia adalah meningkatnya kepekaan indrawi terhadap berbagai stimuli sensori dan sensasi fisik seperti sentuhan, rasa hangat, atau dingin.

Respon ideomotor adalah gerakan anggota tubuh yang disebabkan oleh kendali pikiran bawah sadar sehingga tampak terjadi secara otomatis. Contoh respon ideomotor adalah gerakan kepala, gerakan jari, gerakan pendulum, atau lengan terangkat.

Halusinasi positif dan negatif merujuk pada perubahan pengalaman subjek terhadap stimuli sensori. Halusinasi dapat melibatkan indera apa saja: penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, dan sentuhan. Halusinasi positif artinya subjek mengalami sesuatu yang sebenarnya tidak ada menjadi ada. Bila yang terjadi adalah halusinasi visual positif maka subjek melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada menjadi ada. Halusinasi negatif artinya subjek mengalami sesuatu yang sebenarnya ada menjadi tidak ada. Contoh halusinasi visual negatif adalah saat subjek mencari kunci, kunci yang ada di depan mata ternyata tidak terlihat.  

Pada level ekstrim, halusinasi negatif dapat terjadi dalam bentuk kebutaan, buta warna, dan tuli. Kemampuan tubuh mengabaikan persepsi dari stimuli sensori spesifik adalah salah satu dasar dari pemanfaatan anestesi dan analgesia untuk kendali rasa sakit.

Simtom dan Fenomena Hipnotik

Contoh menarik yang menunjukkan kemiripan simtom dan fenomena hipnotik adalah distorsi waktu yang terjadi pada klien yang punya kebiasaan cuci tangan berulang atau mandi dalam waktu lama. Dalam beberapa kasus ada klien cuci tangan hingga setengah jam dan mandi hingga tiga jam. Saat ditanya mengapa ia cuci tangan atau mandi demikian lama, klien umumnya mengatakan bahwa ia tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat. Ia merasa baru sebentar. Dalam hal ini klien mengalami distorsi waktu yang disebut kontraksi waktu.

Dalam konteks relasi, fenomena hipnotik sering terjadi dan dialami oleh salah satu pasangan atau keduanya tanpa disadari. Seringkali seseorang “melihat” atau “mendengar”  pasangannya bersikap dengan cara tertentu yang sebenarnya tidak akurat (halusinasi positif), atau justru tidak melihat perilaku yang sebenarnya tampak jelas di depan mata (halusinasi negatif), misalnya perubahan sikap atau kebiasaan pasangan yang mengindikasikan terjadi sesuatu yang di luar kewajaran.   

Contoh lain adalah saat pasangan bertengkar. Yang satu mampu mengingat dengan sangat detil berbagai kejadian di masa lalu (hipermnesia) sedangkan satunya sama sekali tidak ingat kejadiannya (amnesia).

Empat Prinsip Pemanfaatan Fenomena Hipnotik

Pemanfaatan fenomena hipnotik dalam konteks klinis mengikuti empat prinsip berikut. Pertama, terapis hanya menggunakan fenomena hipnotik yang paling mudah muncul, dimunculkan, atau dialami oleh klien. Prinsip ini mengacu pada kecenderungan setiap klien untuk mengalami atau dengan mudah memunculkan fenomena tertentu baik saat dalam kondisi trance atau di luar trance.

Kedua, terapis memanfaatkan fenomena yang menjadi bagian dari masalah klien untuk tujuan terapeutik (Erickson, 1965; Giligan, 1987). Dengan kata lain, bila terdapat fenomena hipnotik dalam manifestasi simtom, apapun fenomena ini, dapat diberdayakan sebagai bagian dari strategi penanganan dan resolusi masalah.

Ketiga, utilisasi fenomena hipnotik yang sifatnya berkebalikan dengan fenomena yang menjadi penyebab masalah. Fenomena hipnotik biasanya memiliki pasangan yang sifatnya berkebalikan, contohnya: amnesia – hipermnesia, kontraksi waktu – ekspansi waktu, regresi – progresi, anestesi – hiperestesia, halusinasi negatif – halusinasi positif.

Keempat, memilih fenomena yang dapat digunakan sebagai simbol terapi. Misalnya tangan terangkat (arm levitation) yang diletakkan di depan tubuh klien menjadi simbol resistensi yang memisahkan klien dan terapis. 

(sumber: Adi W Gunawan Institute of Mind Technology)

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *