Ada dua cara jalani hidup. Pertama, hidup di bawah kendali kesadaran. Dan kedua, hidup di bawah kendali emosi. Bila diminta memilih, secara sadar, tentu kita semua ingin jalani hidup dengan penuh kesadaran. Namun, pilihan pertama tidak mudah. Dibutuhkan upaya dan kesungguhan niat untuk melatih diri mampu sadar dalam berpikir, berucap, dan bertindak.

Mayoritas orang, tanpa disadari, jalani hidup di bawah kendali emosi, terutama emosi-emosi seperti marah, benci, dendam, kecewa, terluka, sakit hati, frustasi, malu, tidak berharga, dan berbagai emosi negatif lainnya.

Dari mana asal emosi negatif ini?

Pengalaman hidup dan makna yang dilekatkan padanya menentukan emosi yang muncul. Setiap orang berbeda dalam memberi makna. Satu kejadian bisa bermakna negatif, bagi satu orang, namun bisa bermakna positif bagi yang lain.

Pemaknaan dilakukan berdasar kepercayaan yang dipegang individu. Dan mengikuti gerak pikiran yang sangat cepat, pemaknaan terjadi dalam sekejap, di level pikiran bawah sadar (PBS), di luar kendali diri (pikiran sadar) dan individu hanya rasakan produk akhir pemaknaan yaitu emosi.

Saat emosi muncul, bergantung pada intensitasnya, ia segera menguasai diri individu. Semakin intens emosi ini, semakin kuat daya kendali dan cengkeramannya atas pikiran sadar individu. Akibatnya, individu sulit berpikir logis, sulit gunakan nalar sehat saat diri dalam kendali emosi.

Emosi yang melekat pada memori kejadian pertama selanjutnya bisa mendapat penguatan saat individu alami kejadian yang sama atau serupa dengan kejadian sebelumnya, memberi makna yang sama, dan muncul emosi yang sama. Rangkaian kejadian bermuatan emosi yang sama ini terangkai dalam jalinan memori dengan intensitas emosi yang semakin lama semakin kuat. Sama halnya bola salju yang menggelinding dan membangun momentum.

Sesuai judul artikel ini, saya akan bahas adiksi emosi ditinjau dari dua perspektif: sifat pikiran bawah sadar (PBS) dan tubuh. Ada satu fungsi PBS yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami yaitu PBS sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia tidak punya kemampuan untuk melakukan resolusi ini.

Cara PBS membantu individu untuk selesaikan trauma (emosi negatif) adalah dengan menempatkan individu pada situasi atau kejadian yang sama atau mirip dengan kejadian sebelumnya, belajar dari kejadian ini dan atasi emosinya. Namun, yang selama ini terjadi, saat individu alami kembali kejadian yang sama atau mirip dengan kejadian sebelumnya, bukannya ia belajar atau bertumbuh, emosinya menjadi semakin intens. PBS akan terus lakukan hal ini sampai individu sadar pesan yang ia sampaikan dan selesaikan trauma ini.

Biasanya ada dua situasi di mana individu akhirnya sadar bahwa ia perlu atasi emosinya. Pertama, ia sadar bila dibiarkan emosi ini akan berakibat buruk bagi hidupnya. Dan untuk itu ia putuskan segera atasi emosi ini dengan berbagai cara. Kedua, ia dalam kondisi yang sedemikian buruk, akibat emosi negatif dalam dirinya, sehingga tidak ada cara lain untuk atasi masalah ini kecuali dengan berubah.

Hal menarik saat kita alami emosi, otak akan hasilkan senyawa kimiawi (neuropeptida) yang selanjutnya dikirim ke sel-sel tubuh. Senyawa kimiawi ini akan memengaruhi sel dan memodifikasi reseptor sel. Semakin sering seseorang alami emosi yang sama, karena PBS menempatkan ia dalam situasi yang sama atau mirip dengan sebelumnya, dan menimbulkan emosi yang sama, maka semakin banyak modifikasi terjadi pada reseptor sel hingga pada satu saat sel alami “desensitisasi” terhadap senyawa kimiawi ini. Satu-satunya cara untuk bisa menstimulasi sel-sel tubuhnya adalah dengan “memberi” senyawa kimiawi dengan “intensitas” yang lebih tinggi karena baseline-nya telah berubah.

Orang yang sering alami emosi negatif tertentu, misalnya marah, sering tidak sadar bahwa marah telah menjadi kondisi alamiahnya. Dan ini terekam di sel-sel tubuhnya. Saat tidak marah, ia merasa tidak nyaman, karena ia di luar zona nyamannya. Sel-sel tubuhnya butuh senyawa kimiawi “marah’ untuk bisa merasa nyaman. Dan disadari atau tidak, ia akan alami situasi, kejadian, peristiwa, atau apapun yang munculkan perasaan marah. Dan siklus ini terus berlanjut.

Akan menjadi lebih buruk lagi bila individu mengidentifikasi dirinya dengan emosinya. Sebelumnya ia berkata, “Saya sedang marah.” Lambat laut, bila ia sering marah, akhirnya ia berkata, “Saya pemarah”, dan sejak saat ini marah identik dengan dirinya, menjadi identitasnya, yang akan terus ia perkuat.

Ini yang terjadi di dalam pikiran dan tubuh. Yang tampak di luar sangatlah berbeda. Disadari atau tidak, individu yang alami adiksi emosi akan gunakan situasi, lingkungan, peristiwa, atau apa saja untuk perkuat emosinya. PBS menempatkan ia pada situasi itu, tubuhnya butuh senyawa kimiawi emosi tertentu, dan ia lakukan hal yang seharusnya dihindari yaitu memperkuat emosinya.

Misalnya dalam diri seseorang ada emosi marah yang intens. Ia, tanpa disadari, akan memperkuat emosi marah ini dengan menggunakan lingkungannya. Misalnya, ia cerita pada temannya mengapa ia marah. Saat ia ceritakan apa yang dulu terjadi, yang membuat ia marah, di dalam pikirannya, lebih tepat pikiran bawah sadarnya, ia alami kembali kejadian ini. Dan senyawa kimiawi “marah” membanjiri tubuhnya dan membuat tubuhnya “nyaman” dan menjadi semakin mudah marah.

Semakin lama, ia menjadi semakin mudah marah. Ia bisa marah pada hujan, rekan kerja, pasangan, jalan yang macet, sahabat yang tidak sependapat dengannya, marah karena harga bahan bakar naik, marah karena tarif listrik naik, dan marah pada hal yang seharusnya tidak perlu membuatnya marah. Intinya, ia selalu dapat temukan alasan atau pembenaran untuk marah pada apa saja. Dan hebatnya, ia merasa benar, dan punya alasan logis, masuk akal untuk marah.

Memang demikianlah cara kerja pikiran. PBS memunculkan emosi tertentu dan pikiran sadar berusaha temukan pembenaran atas apa yang dilakukan.

Inilah yang disebut adiksi emosi. Saat saya jelaskan hal ini pada klien, di ruang terapi, klien menolak bila ia dikatakan alami adiksi emosi. Ia merasa wajar saja bila ia marah atau alami emosi negatif tertentu.

Saya jelakan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat atau sangat sulit dihentikan masuk dalam kategori adiksi. Bila ia sulit untuk “tidak marah” atau sulit berhenti menjadi marah karena situasi tertentu maka ia alami adiksi emosi. Sama seperti halnya anak yang sulit berhenti main game, orang dewasa yang sulit berhenti main gawai, orang yang sulit kendalikan nafsu makan.

Apa solusi terbaik untuk atasi adiksi emosi?

Saat pikiran dan hati tenang, suasana nyaman, saat tidak sedang alami emosi negatif tertentu, di saat inilah kita dapat berpikir (lebih) jernih. Dan putusan untuk berubah dapat dilakukan di momen ini.

(sumber: Adi W Gunawan Institute of Mind Technology)

Tags:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *